Keadaan Ekonomi Indonesia Pada Masa Awal Kemerdekaan (1945—1959)

by - 5/24/2015

      Kondisi ekonomi pada akhir kedudukan Jepang dan Indonesia pada awal kemerdekaan sangat kacau. Inflansi yang sangat parah menimpa negara Republik Indonesia yang baru berusia beberapa bulan. Inflansi terjadi karena mata uang penduduk Jepang beredar secara tak terkendali. Pada saat itu Indonesia belum memiliki mata uang sendiri sebagai mata uang pengganti. Kas negara kosong, kondisi perekonomian yang cukup buruk di dukung oleh keadaan pajak dan bea masuk lainya sangat kecil. Sebaliknya pengeluaran negara semangkin bertambah. Menghadapi situasi demekian pemerintah mengambil kebijaksanaan-kebijakasaaan tertentu dengan menyatakan bahwa beberapa mata uang masih tetap berlaku sebagai pembayaran yang sah di wilayah Republik Indonesia. Mata uang itu adalah mata uang De Javasche Bank, mata uang Hindia Belanda dan mata uang penduduk Jepang. Inflansi menimbulkan penderitaan hidup yang cukup berat bagi bangsa Indonesia, terutama dikalangan petani.
      Hal ini disebabkan pada zaman pendudukan Jepang petani adalah produsen yang paling banyak menyimpan mata uang Jepang. Disamping itu, keadaan ekonomi Indonesia semangkin memburuk setelah terjadi blokade-blokade laut yang dilakukan oleh Belanda. Blokade itu menutupi pintu perdagangan Republik Indonesia. Tindakan blokade ini di lakukan sejak bulan November 1945. Akibatnya barang-barang milik pemerintah Republik Indonesia tidak dapat di ekspor. Alasan Belanda melakukan blokade sebagai berikut :
1. Mencegah masuknya senjata dan peralatan militer ke Indonesia.
2. Mencegahnya keluar hasil-hasil perkebunan milik Belanda dan milik pengusaha asing lainya.
3. Melindungi bangsa indonesia dari tindakan-tindakan dan perbuataan-perbuataan yang di lakukan oleh bukan bangsa Indonesia.
      Tujuan blokade-blokade ini untuk menjatuhkan Indonesia yang baru berdiri dengan senjata ekonomi. Perekonomian bangsa Indonesia pun memburuk. Bangsa Indonesia juga kekurangan bahan-bahan inpor yang sangat dibutuhkan. Disamping itu, inflasi tidak dapat dikendalikan. Untuk melaksanakan koordinasi dalam pengurusan bidang ekonomi dan keuangan pemerintah membentuk  Bank Negara Indonesia pada tanggal 1 November 1946. Pemerintah merancangkan untuk melakukan usaha menembus blokade ekonomi pemerintah republik Indonesia berusaha untuk menembus blokade ekonomi musuh dengan cara, sebagai berikut.
1. Diplomasi Beras ke India             
Pemerintah Republik Indonesia bersedia membantu India yang sedang ditimpa kelaparan dengan mengirim 500.000 ton beras. Segagai imbalanya, pemerintah india menjanjikan mengirimkan bahan pakaian yang sangat dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Usaha pemerintah dalam bidang politik ini ternyata berhasil dengan baik. India menjadi Negara Asia yang paling aktif membantu Indonesia dalam perjuangan diplomatik diforum-forum internasional.
2. Mengadakan Hubungan Dagang Langsung ke Luar Negeri            
Pemerintah mengadakan hubungan dagang langsung dengan pihak luar negeri. Usaha itu dirintis oleh Banking and Tranding Coperation (BTC). BTC berhasil mengadakan kontak dengan pengusaha swasta Amerika Serikat (Isbrantsen Inc). dalam transaksi pertama, Amrika Serikat bersedia memberi barang-barang ekspor  seperti gula, the, karet dan lain-lain.
Kapal yang pertama kali masuk ke wilayah Indonesia menuju pelabuhan Cirebon bernama Martin Behrman yang mengangkut barang-barang ekspor Indonesia. Tetapi kapal itu dicegat oleh angkatan laut Belanda dan diarak ke pelabuhan Tanjung Periuk. Barang-barang muatannya disita dan pemerintah Indonesia berusaha untuk menembusnya melalui Sumatera. Usaha ini dilakukan dengan perahu layar dan kapal motor cepat. Pelaksanaan penembusan blokade dilakukan oleh angkatan laut Republik Indonsia dengan bantuan dari pemerintah daerah penghasil barang-barang ekspor. Sejak tahun 1947, meskipun Indonesia telah merdeka tetapi Kondisi Ekonomi Indonesia masih sangat buruk. 
      Upaya untuk mengubah stuktur ekonomi kolonial ke ekonomi nasional yang sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia berjalan tersendat-sendat. Faktor yang menyebabkan keadaan ekonomi tersendat adalah sebagai berikut. 
1. Setelah pengakuan kedaulatan dari Belanda pada tanggal 27 Desember 1949, bangsa Indonesia menanggung beban ekonomi dan keuangan seperti yang telah ditetapkan dalam KMB. Beban tersebut berupa hutang luar negeri sebesar 1,5 Triliun rupiah dan utang dalam negeri sejumlah 2,8 Triliun rupiah.
2. Indonesia hanya mengandalkan satu jenis ekspor terutama hasil bumi yaitu pertanian dan perkebunan sehingga apabila permintaan ekspor dari sektor itu berkurang akan memukul perekonomian Indonesia.
3. Politik keuangan Pemerintah Indonesia tidak di buat di Indonesia melainkan dirancang oleh Belanda.
4. Belum memiliki pengalaman untuk menata ekonomi secara baik, belum memiliki tenaga ahli dan dana yang diperlukan secara memadai.
5. Tidak stabilnya situasi politik dalam negeri mengakibatkan pengeluaran pemerintah untuk operasi-operasi keamanan semakin meningkat.
6. Kabinet terlalu sering berganti menyebabakan program-program kabinet yang telah direncanakan tidak dapat dilaksanakan, sementara program baru mulai dirancang.

      Kehidupan ekonomi Indonesia hingga tahun 1959 belum berhasil dengan baik dan tantangan yang menghadangnya cukup berat. Upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi sebagai berikut.
1. Gunting Syafruddin
Kebijakan ini adalah pemotongan nilai uang (sanering). Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp. 5,1 Miliar. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp. 200 juta.
2. Sistem Ekonomi Gerakan Benteng
Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah. Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia. Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.  Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit. Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
3. Nasionalisasi De Javasche Bank
Seiring meningkatnya rasa nasionalisme maka pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat peraturan bahwa mengenai pemberian kredi harus dikonsultasikan pada pemerintah Belanda. Tujuannya adalah untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara praktis.
4. Sistem Ekonoi Ali-Baba
Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusaha non pribumi khususnya Cina. Pelaksanaan kebijakan Ali-Baba, pengusaha pribumi diwajibkan untuk memberikan latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa Indonesia agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf.
5. Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)
Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan Finek, yang berisi Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan. Banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, sedangkan pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan Belanda tersebut.


You May Also Like

0 komentar