Karya Tulis Humaniora: Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku) untuk Indonesia Jaya

by - 10/04/2016



Karya tulis ini saya lombakan pada Lomba Karya Tulis Ilmiah Aku Bangga Indonesia Tanah Airku (ABITA) yang diselenggarakan oleh Politeknik Negeri Semarang (Polines). Puji Tuhan karya tulis ini berhasil menempati juara 2 pada perlombaan tersebut.


KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah dengan tema “Satukan Hati Membangun Indonesia Kita dalam Menghadapi Persaingan Global”. Dari tema tersebut, penulis menyusun sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul “Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku) untuk Indonesia Jaya” dengan lancar.
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini, tidak sedikit penulis mengalami kesulitan serta hambatan. Namun berkat bantuan dari berbagai pihak, penulis dapat menyusun karya tulis ilmiah ini dengan baik dan tepat waktu. Maka pada kesempatan kali ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada guru pembimbing,  yang membantu dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. SMA Negeri 10 Samarinda, yang telah memfasilitasi sehingga karya tulis ini dapat diselesaikan dengan baik. Tak lupa kepada semua pihak yang tidak dapat dituliskan satu per satu, yang tentunya sangat berperan dalam penyelesaian karya tulis ilmiah ini.
Karya tulis ilmiah ini dibuat dengan tujuan menyampaikan gagasan penulis sebagai wujud dari kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia. Penulis menyadari dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk maupun isinya. Penulis mengharapkan kritik konstruktif demi kelancaran perbaikan karya tulis ini kedepannya.
            Akhir kata semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, dan terima kasih.
           
                                



Samarinda, 6 Maret 2015


Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN...................................................................... ii
LEMBAR PERNYATAAN......................................................................... iii
KATA PENGANTAR.................................................................................. iv
DAFTAR ISI................................................................................................. v
DAFTAR TABEL......................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ viii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
1.1 Latar Belakang............................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan.......................................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan....................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................. 3
2.1 Cinta Tanah Air........................................................................... 3
2.1.1 Pengertian Cinta Tanah Air...................................................... 3
2.1.2 Hubungan Nasionalisme, Patriotisme, dan Cinta Tanah Air.... 3
2.2 Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku).. 4
BAB III METODE PENULISAN............................................................... 5
3.1 Jenis Penelitian............................................................................. 5
3.2 Teknik Pengumpulan Data........................................................... 5
3.3 Lokasi dan Waktu Penelitian....................................................... 5
3.4 Populasi dan Sampel.................................................................... 5
3.5 Kerangka Berpikir........................................................................ 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................... 6
4.1 Hasil............................................................................................. 6
4.2 Pembahasan................................................................................. 7
BAB V PENUTUP....................................................................................... 9
5.1 Kesimpulan................................................................................. 9
5.2 Saran........................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 10
DAFTAR RIWAYAT HIDUP..................................................................... 11
LAMPIRAN.................................................................................................. 12





















DAFTAR TABEL

Nomor
Tabel
Halaman
4.1
Indikator kuesioner I variabel sikap.........................
6
4.2
Indikator kuesioner I variabel pengetahuan.............
6
4.3
Indikator kuesioner II...............................................
7






















DAFTAR LAMPIRAN

Nomor
Lampiran
Halaman
1
Kuesioner I dan II......................................................
12
2
Kuesioner terjawab....................................................
16
3
Skor skala Likert........................................................
28
4
Hasil kuesioner I variabel sikap................................
29
5
Hasil kuesioner I variabel pengetahuan....................
33
6
Hasil kuesioner II......................................................
37
7
Logo Gerakan 100% ABITA....................................
41
8
Dokumentasi kegiatan...............................................
42
















BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Munculnya rasa persatuan dan kesatuan merupakan titik awal dari dimulainya perjuangan nasional. Rasa yang tidak didapatkan dalam waktu yang singkat. Beberapa negara, seperti Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, dan Jepang pernah tercatat oleh sejarah sebagai negara penjajah bagi bangsa Indonesia. Butuh bertahun-tahun, bahkan 3,5 abad Indonesia dijajah Belanda, tak cukup untuk menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan tersebut. Tumbuhnya rasa persatuan dan kesatuan diiringi dengan tumbuhnya rasa cinta terhadap tanah airnya, Indonesia. Tanpa adanya rasa persatuan dan kesatuan, serta cinta tanah air, mustahil Indonesia akan mendapat kemerdekaan.
Globalisasi justru menghapus jarak antarnegara. Remaja yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi memiliki rasa penasaran dengan hal-hal dunia di luar Indonesia. Contoh kecilnya yaitu, remaja Indonesia lebih bangga jika menggunakan produk luar negeri dibanding produk Indonesia. Hal-hal yang berbau Indonesia sudah dianggap kuno dalam pergaulan jika dibandingkan dengan hal-hal diluar negeri. Perlahan namun pasti perasaan bangga dengan tanah kelahirannya mulai tergantikan dengan tanah yang baru dikenal.
Indonesia terkenal dengan sikap gotong royong yang timbul karena rasa persatuan dan kesatuan. Namun dampak negatif globalisasi memudarkan ciri khas tersebut. Remaja Indonesia menunjukan sikap apatis, mulai sibuk dengan telepon genggam, laptop, dan berbagai media teknologi canggih yang dimiliki hingga mereka tidak menyisihkan waktu untuk berkumpul bersama teman sebayanya  sekadar belajar atau berbincang bersama. Hal ini yang membuat rasa persatuan, kesatuan, serta rasa cinta tanah air remaja Indonesia semakin memudar.
Perpecahan kini menjadi tantangan terbesar bagi Indonesia. Pudarnya rasa persatuan, kesatuan, serta rasa cinta tanah air membuat Indonesia harus semakin berhati-hati. Indonesia tidak akan menjadi negara yang besar apabila rakyatnya sendiri justru tidak memiliki rasa cinta terhadap bangsanya. Jika rakyat Indonesia tak memiliki rasa cinta terhadap bangsanya, maka dapat dipastikan satu per satu rakyat Indonesia akan pergi meninggalkan negara ini. Pada akhirnya, Indonesia tak akan mampu menghadapi persaingan global karena telah kehilangan sumber daya manusia.
Dari berbagai problematika diatas, penulis yang merupakan generasi muda Indonesia sadar akan kondisi Indonesia saat ini yang membutuhkan pertolongan untuk mengembalikan rasa cinta tanah air generasi muda. Untuk mewujudkannya, penulis ingin membentuk sebuah organisasi gerakan cinta tanah air yang penulis berinama “Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku)”. Gerakan ini akan merangkul segenap generasi muda bangsa yang ingin melihat Indonesia dengan kejayaannya untuk ambil bagian.

2
1.2  Rumusan Masalah
1.2.1  Bagaimana keadaan rasa cinta tanah air para remaja Kalimantan Timur di era globalisasi saat ini?
1.2.2  Bagaimana mengimplementasikan Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku)?
1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1  Untuk mendeskripsikan keadaan rasa cinta tanah air para remaja Kalimantan Timur di era globalisasi saat ini.
1.3.2  Untuk menguraikan pengimplementasian dari Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku).
1.4  Manfaat Penulisan
1.4.1  Bangsa Indonesia
1.4.1.1  Sebagai media untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air generasi muda yang mulai pudar.
1.4.1.2  Mampu menciptakan remaja unggul yang dapat membawa Indonesia menuju kejayaannya dengan solusi yang diberikan.
1.4.1.3  Sebagai media untuk mempersiapkan generasi muda agar siap membawa Indonesia dalam menghadapi persaingan global dengan inovasi yang diberikan.
1.4.2  Remaja Indonesia
1.4.2.1  Menyadarkan remaja Indonesia untuk lebih mencintai negaranya.
1.4.2.2  Memperkenalkan Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku) sebagai media penumbuhan rasa cinta tanah air.
1.4.2.3  Menyadarkan pentingnya rasa cinta tanah air kepada remaja Indonesia.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Cinta Tanah Air
2.1.1 Pengertian Cinta Tanah Air
         Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cinta adalah suka sekali, sayang benar. Sedangkan tanah air adalah negeri tempat kelahiran. Dari uraian diatas penulis dapat simpulkan bahwa cinta tanah air adalah perasaan suka dan sayang kepada negeri tempat kelahiran. Negeri tempat kelahiran yang dimaksud pada karya tulis ini adalah tanah air Indonesia.
         Cinta tanah air merupakan salah satu dari 18 nilai dalam pendidikan karakter bangsa. Dalam pendidikan karakter bangsa, cinta tanah air didefiniskan sebagai cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. (Balitbang Kemendiknas, 2010 : 8)
         Sehingga dapat penulis simpulkan bahwa berdasarkan KBBI dan segi pendidikan, cinta tanah air merupakan karakter bangsa yang menunjukan rasa suka, sayang, dan penghargaan yang tinggi terhadap bangsanya.
2.1.2 Hubungan Nasionalisme, Patriotisme dan Cinta Tanah Air
Berdasarkan segi kebahasaan, nasionalisme berasal dari kata nasional dan isme. Nasional berarti bersifat kebangsaan; berkenaan/berasal dari bangsa sendiri; meliputi suatu bangsa. Sedangkan isme berarti paham/ajaran/aliran.
Berdasarkan KBBI, nasionalisme adalah paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan negara sendiri; sifat kenasionalan; kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang potensial atau aktual bersama-sama mencapai, mempertahankan, dan mengabdikan identitas, integritas, kemakmuran, dan kekuatan bangsa itu; semangat kebangsaan.
Penulis simpulkan bahwa berdasarkan segi kebahasaan dan KBBI, nasionalisme merupakan paham (ajaran) yang meliputi suatu bangsa untuk mencintai bangsa dan negaranya sendiri.
Berdasarkan segi kebahasaan, patriotisme berasal dari kata patriot dan isme. Patriot berarti pencinta (pembela) tanah air dan isme berarti paham/ajaran/aliran.
Berdasarkan KBBI, patriotisme adalah sikap seseorang yang bersedia mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya; semangat cinta tanah air.
Berdasarkan  uraian di atas, penulis simpulkan bahwa patriotisme merupakan sikap seseorang yang mencintai negaranya sehingga bersedia membela dan mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran negaranya.
         Nasionalisme dan patriotisme memiliki korelasi dengan rasa cinta tanah air. Pengertian keduanya merujuk pada rasa cinta tanah air.  Dapat penulis simpulkan bahwa nasionalisme dan patriotisme dapat muncul karena adanya rasa cinta tanah air.
2.2  Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku)
Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku) adalah organisasi bidang lingkungan, sosial, seni dan budaya, ekonomi, serta pendidikan. Sasaran anggota dari organisasi ini adalah remaja Indonesia yang berusia 11 — 18 tahun, yaitu remaja Indonesia yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA/sederajat).
Remaja didefinisikan sebagai suatu periode perkembangan dari transisi antara masa kanak-kanak dan dewasa, yang diikuti oleh perubahan biologis, kognitif, dan sosio emosional (Santrock, 1998).
Berdasarkan data sensus penduduk tahun 2010 menunjukan bahwa jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,6 juta jiwa, 63,4 juta diantaranya (26,67%) adalah remaja. Besarnya penduduk remaja akan berpengaruh pada pembangunan dari aspek sosial, ekonomi, maupun demografi baik saat ini maupun masa yang akan datang. Hal inilah yang menjadi alasan organisasi ini memilih siswa/i SMP dan SMA untuk menjadi sasaran anggota. Remaja merupakan bibit bangsa paling berpotensi membangun bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
Organisasi Gerakan 100% ABITA ini dibuat dengan tujuan untuk membangkitkan kembali rasa cinta tanah air masyarakat Indonesia, khususnya para remaja yang kini mulai pudar termakan oleh dampak globalisasi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan visi dan misi. Visi dari Gerakan 100% ABITA yaitu “Mewujudkan generasi penerus bangsa yang siap dalam menghadapi persaingan global”. Sedangkan untuk mewujudkan visi, maka disusunlah beberapa misi, yaitu:
1.      Menumbuhkan solidaritas para remaja agar memiliki jiwa persatuan, kesatuan, nasionalisme, serta patriotisme.
2.      Menciptakan remaja yang memiliki rasa cinta dan bangga terhadap tanah air Indonesia dengan program kerja yang telah disusun.
3.      Mewadahi remaja untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.


BAB III
METODE PENULISAN

3.1  Jenis Penelitian
Pada penyusunan karya tulis ilmiah ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survei, dan penelitian cross-sectional (satu waktu).
3.2  Teknik Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah data primer dengan metode angket/kuesioner.
3.3  Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di dua kota Provinsi Kalimantan Timur, yaitu Samarinda dan Balikpapan mulai 6 — 18 Maret 2015.
3.4  Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/i SMP dan SMA/sederajat di Kalimantan Timur. Dikarenakan jumlah populasi penelitian ini sangat besar, maka perlu dilakukan pengambilan sampel.
Sampel pada penelitian ini adalah 100 siswa/i SMP dan SMA yang berada di kota Samarinda dan Balikpapan, yaitu 25 siswa/i kelas IX SMPN 1 Balikpapan, 25 siswa/i kelas VIII SMP Plus Melati Samarinda, 25 siswa/i kelas X SMAN 10 Samarinda, dan 25 siswa/i kelas XI SMAN 10 Samarinda. Terpilihnya 2 kota ini menjadi sampel karena 2 kota ini merupakan kota besar dan memiliki karakteristik yang sesuai dengan tujuan penelitian ini, yaitu remaja yang terkena dampak globalisasi.
3.5  Kerangka Berpikir
Akibat dari globalisasi, persaingan global pun tidak dapat dihindari. Jika Indonesia tidak melakukan pembangunan, maka Indonesia dipastikan akan tertinggal dalam persaingan global. Oleh sebab itu, dibutuhkan sebuah solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Penulis memberikan sebuah solusi, yaitu dibentuknya Gerakan 100% ABITA. Sehingga diharapkan ketika organisasi ini benar-benar dibentuk maka akan memberikan hasil berupa remaja yang memiliki rasa cinta tanah air dan siap membawa Indonesia menghadapi persaingan global. Sehingga kejayaan Indonesia dapat tercapai.
Apabila penulis menggambarkan kerangka berpikir, maka kerangka berpikirnya adalah sebagai berikut.

Masalah

Perencanaan Solusi

Pengimplementasian Solusi

Hasil
 







BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Untuk mendapatkan data yang akurat mengenai pengetahuan dan sikap remaja Indonesia, maka dilakukan proses penelitian dengan teknik penyebaran kuesioner. Terdapat 2 kuesioner dalam penelitian ini, yaitu Kuesioner Sikap dan Pengetahuan Remaja Mengenai Indonesia Siswa/i SMP dan SMP di Kalimantan Timur (kuesioner I), dan Kuesioner Minat Keikutsertaan dalam Gerakan 100% ABITA Siswa/i SMP dan SMA di Kalimantan Timur (kuesioner II).
Kuesioner I terdiri dari variabel sikap dan pengetahuan. Hasil yang didapat melalui kuesioner I variabel sikap, yaitu untuk mengetahui keterlibatan remaja Indonesia dalam kegiatan sehari-hari mengenai Indonesia. Sedangkan hasil yang didapat melalui kuesioner I variabel pengetahuan, yaitu untuk mengetahui tingkat pengetahuan remaja Indonesia mengenai Indonesia. Pernyataan kuesioner variabel sikap dan pertanyaan kuesioner variabel pengetahuan merujuk pada rasa cinta tanah air. Kuesioner I mendapat hasil berupa skor (lampiran 4 dan lampiran 5). Dari hasil yang diperoleh, nilai rata-rata yang digunakan sebagai tolok ukur hasil penyebaran kuesioner. Perhitungan skor kuesioner I variabel sikap dihitung menggunakan skala Likert (lampiran 3). Berikut tabel indikator kuesioner I variabel sikap.
Interval Nilai Rata-Rata
Keterangan
1 – 10
Sangat kurang
11 – 20
Kurang
21 – 30
Cukup
31 – 40
Baik
41 – 50
Sangat Baik
Tabel 4.1 Indikator kuesioner I variabel sikap
Dari 100 responden didapatkan nilai rata-rata pada kuesioner I variabel sikap, adalah 34,89. Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa sikap yang dimiliki oleh remaja di Kalimantan Timur mengenai Indonesia adalah baik.
Perhitungan skor kuesioner I variabel pengetahuan dihitung dengan skor 1 untuk jawaban benar, dan skor 0 untuk jawaban salah dan tidak diisi.  Berikut adalah tabel indikator kuesioner I variabel pengetahuan.
Interval Nilai Rata-Rata
Keterangan
0,1 – 2
Sangat kurang
2,1 – 4
Kurang
4,1 – 6
Cukup
6,1 – 8
Baik
8,1 – 10
Sangat Baik
Tabel 4.2 Indikator kuesioner I variabel pengetahuan
Nilai rata-rata pada variabel pengetahuan sebesar 4,54. Berdasarkan tabel 4.2 menunjukkan bahwa pengetahuan yang dimiliki remaja di Kalimantan Timur mengenai Indonesia adalah cukup.
Hasil yang didapat melalui kuesioner II, yaitu untuk mengetahui minat keikutsertaan remaja di Kalimantan Timur dalam Gerakan 100% ABITA. Pada kuesioner II diberikan pilihan ya, ragu-ragu dan tidak. Terdapat 76 responden menjawab ya, 24 responden menjawab ragu-ragu, dan tidak ada responden menjawab tidak (lampiran 6). Berikut adalah tabel indikator kuesioner II.
Frekuensi Jawaban Ya
Keterangan
<50
Gerakan 100% ABITA kurang diminati
>50
Gerakan 100% ABITA banyak diminati
Tabel 4.3 Indikator kuesioner II

Berdasarkan tabel 4.3 menunjukan Gerakan 100% ABITA banyak diminati remaja di Kalimantan Timur. Hal ini dapat memperkuat gagasan apabila Gerakan 100% ABITA benar-benar dibentuk akan banyak diminati para remaja.
4.2 Pembahasan
Nilai maksimum pada kuesioner I variabel sikap adalah 50. Terdapat nilai tertinggi sebesar 50 yang diraih oleh 3 responden. Sedangkan nilai terendah sebesar 29 yang diraih oleh 1 responden. Dengan hasil keadaan baik, remaja Indonesia sudah terlibat dalam berbagai kegiatan. Walaupun begitu, masih ada beberapa responden yang tidak bersedia terlibat dalam beberapa kegiatan tersebut. Oleh sebab itu, sikap remaja mengenai Indonesia masih perlu ditingkatkan lagi.
Nilai maksimum pada kuesioner I variabel pengetahuan adalah 10. Terdapat nilai sebesar 10 yang diraih oleh 1 responden. Sedangkan nilai terendah sebesar 0 yang diraih oleh 1 responden. Dengan hasil keadaan cukup, remaja Indonesia sudah cukup mengetahui hal-hal mengenai negaranya. Dengan adanya nilai 0 pada hasil kuesioner, menunjukan bahwa masih ada beberapa remaja Indonesia yang belum mengetahui mengenai negaranya. Oleh karena itu, pengetahuan remaja mengenai Indonesia tentu perlu ditingkatkan lagi.
Pada pertanyaan uraian kuesioner I variabel pengetahuan, 100 responden mengatakan bahwa mereka memiliki rasa cinta tanah air. Perwujudannya dilakukan dalam berbagai cara, seperti mengikuti upacara bendera, melestarikan tarian daerah, mempelajari sejarah Indonesia dan lain-lain. Selain itu, terdapat pula beberapa responden yang mengaku memiliki rasa cinta tanah air, namun belum ada hal yang dilakukan sebagai perwujudan nyatanya.
Gerakan 100% ABITA muncul sebagai sarana remaja untuk meningkatkan sikap dan pengetahuan mengenai Indonesia. Langkah untuk meningkatkannya, yaitu dengan memupuk rasa kecintaannya terhadap Indonesia. Melalui organisasi ini, penulis berupaya menciptakan rasa nasionalisme, patriotisme, dan cinta tanah air. Selain itu, penulis juga berupaya menyatukan Indonesia dengan membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan.
Untuk mewujudkan visi dan misi Gerakan 100% ABITA, penulis telah merencanakan beberapa program kerja. Berikut adalah rancangan program kerja Gerakan 100% ABITA.
·         Kegiatan Internal (ABITA Satu)
Kegiatan ABITA Satu melibatkan seluruh anggota organisasi dalam pelaksanaannya. Tujuan dari kegiatan internal, yaitu untuk menumbuhkan solidaritas agar anggotanya memiliki perasaan satu tubuh dalam organisasi. Sehingga akan membangkitkan kembali semangat persatuan dan kesatuan. Rencana kegiatan internal ini, seperti merayakan hari besar nasional, lalu dibuat suatu susunan acara yang berupa diskusi, permainan, kompetisi, menonton film mengenai Indonesia, dan berbagai kegiatan lain yang dapat meningkatkan solidaritas anggota.
·         Kegiatan Eksternal (ABITA Peduli)
Kegiatan ABITA Peduli melibatkan seluruh anggota organisasi dan
masyarakat dalam pelaksanaannya. Tujuan dari kegiatan eksternal, yaitu untuk mengajak masyarakat mencintai tanah air Indonesia dan tentunya sebagai media promosi bagi para remaja yang belum bergabung dalam Gerakan 100% ABITA.
Kegiatan eksternal ini memiliki berbagai rencana kegiatan sebagai berikut.
1. ABITA Hijau          : penanaman pohon, bersih-bersih jalan,
: sosialisasi sampah, dan aksi pungut sampah.
2. Suara ABITA          : aksi turun ke jalan untuk mengamen lagu daerah,
: dan lagu nasional.
3. Kreasi ABITA        : membuat kerajinan berunsur Indonesia.
4. ABITA Belajar       : pengadaan seminar, mengajar anak-anak,
: memberikan sumbangan buku, dan lain-lain.           
Dari kegiatan-kegiatan tersebut tentunya akan menghasilkan dana. Dari dana tersebut dialokasikan untuk pengadaan kegiatan soaial yang merujuk pada program kegiatan ABITA yang telah direncanakan.
Banyak sekali keuntungan yang bisa diambil bagi remaja yang mengikuti Gerakan 100% ABITA. Salah satunya adalah pengalaman berorganisasi yang dapat menyelamatkan negeri ini. Selain itu, setiap anggota yang telah menjalankan program kegiatan akan mendapatkan sebuah penghargaan berupa lencana. Nantinya penghargaan tersebut akan dipamerkan pada acara puncak tahunan “ABITA Bersatu”. Masing-masing anggota akan memakai lencana yang mereka miliki. Anggota yang memiliki banyak lencana akan mendapat penghargaan khusus. Diharapkan lencana tersebut dapat menjadi motivasi bagi anggota untuk aktif dalam berbagai kegiatan Gerakan 100% ABITA.


BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Masuknya era globalisasi menjadi ancaman besar bagi negara Indonesia. Indonesia terkenal dengan budaya gotong royong yang timbul karena rasa persatuan dan kesatuan. Namun dampak negatif globalisasi memudarkan ciri khas tersebut. Remaja Indonesia menunjukan sikap apatis, mulai sibuk dengan telepon genggam, laptop, dan berbagai media teknologi canggih yang dimiliki hingga mereka tidak menyisihkan waktu untuk berkumpul bersama teman sebayanya  sekadar belajar atau berbincang bersama.
Untuk menyatukan kembali generasi penerus bangsa, maka penulis menawarkan sebuah solusi berupa dibentuknya organisasi bidang lingkungan, sosial, seni dan budaya, ekonomi, serta pendidikan, yaitu Gerakan 100% ABITA (Aku Bangga Indonesia Tanah Airku).
Program kegiatan Gerakan 100% ABITA telah dirancang khusus untuk menumbuhkan perasaan cinta dan bangga terhadap Indonesia. Melalui program ini, remaja akan diajak mengenali lebih dalam mengenai tanah air Indonesia. Sasaran yang dituju adalah para remaja Indonesia, khususnya wilayah Kalimantan Timur. Melalui remaja yang memiliki rasa cinta tanah air, dapat membangun Indonesia dalam menghadapi persaingan global.
 Untuk mendapatkan data yang akurat, penulis melakukan proses penelitian dengan teknik penyebaran kuesioner. Berdasarkan penyebaran kuesioner minat keikutsertaan remaja dalam Gerakan 100% ABITA siswa/i SMP dan SMA di Kalimantan Timur menunjukkan bahwa Gerakan 100% ABITA banyak diminati oleh remaja di Kalimantan Timur. Dapat disimpulkan, Gerakan 100% ABITA adalah suatu hal yang menarik dan apabila benar-benar akan dibentuk, maka organisasi ini akan memiliki banyak peminat.

5.2 Saran
Akan lebih baik jika Gerakan 100% ABITA segera masuk ke dunia remaja Indonesia. Program kegiatan yang menjanjikan, serta adanya visi dan misi yang jelas, membuat tidak ada alasan untuk menunda pengimplementasiannya di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri dalam pengimplementasian organisasi ini sangat membutuhkan peran dan dukungan dari berbagai pihak, seperti Dinas Pendidikan Kota, Walikota, Kepala Sekolah, dan berbagai pihak-pihak lain diperlukan dalam membantu terealisasinya Gerakan 100% ABITA.
Dengan memanfaatkan dampak positif globalisasi melalui kecanggihan teknologi, Gerakan 100% ABITA dapat disosialisasikan melalui media sosial sehinga organisasi ini dapat sampai ke seluruh remaja di Indonesia dan manfaat positif dari dibentuknya Gerakan 100% ABITA dapat dirasakan oleh seluruh remaja Indonesia.


DAFTAR PUSTAKA

Budimansyah, D 2010, ‘Tantangan globalisasi terhadap pembinaan wawasan kebangsaan dan cinta tanah air di sekolah’, Jurnal Penelitian Pendidikan, vol. 11, no. 1, hh. 8-16.
Departemen Pendidikan Nasional, 2001, Kamus besar bahasa Indonesia, edk 3, Balai Pustaka, Jakarta.
Dewi, I. M 2008, ‘Nasionalisme dan kebangkitan dalam teropong’, Jurnal Mozaik, vol. 3, hh. 1-20.
Herniwati, 2011, ‘Menanamkan nilai nasionalisme melalui pembelajaran pendidikan pancasila dan kewarganegaraan PTK pada siswa kelas VI SDN 88 Perumnas UNIB Bentiring’, Jurnal Kependidikan TRIADIK, vol. 14, hh. 84-91.
Kristiyanti, M 2012, ‘Manajemen sumber daya manusia sebagai strategi menghadapi persaingan global’, Majalah Ilmiah INFORMATIKA, vol. 3, no. 2, hh. 93-116.
Maftuh, B 2008, ‘Internalisasi nilai-nilai Pancasila dan nasionalisme melalui kewarganegaraan’, Educationist Journal, vol. 11, no. 2, hh. 134-144.
Martono, N 2010, Metode penelitian kuantitatif analisis isi dan analisis data sekunder, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Marzuki, E 2014, Siapkah Indonesia Menghadapi Persaingan Global?, dilihat 11 Maret 2015, <http://www.academia.edu/>.

Naseh, S., & Bambang, S 1992, ‘Membuat kuesioner dengan baik dan benar’, Media Litbangkes, vol. 2, hh. 12-17.

You May Also Like

0 komentar