Pupuk Cinta Tanah Air untuk Generasi Muda sebagai Realisasi Nilai Sumpah Pemuda

by - 10/04/2016



Esai ini saya sertakan dalam Lomba Esai SMA N 7 Banjarmasin. Puji Tuhan, esai ini mendapat juara 2 Nasional pada ajang tersebut. Semoga bermanfaat!


PUPUK CINTA TANAH AIR
UNTUK KARAKTER GENERASI MUDA
SEBAGAI REALISASI NILAI PERISTIWA SUMPAH PEMUDA
Oleh: Christy Raina S. Mamesah

“Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia
Kami putra dan putri Indonesia,
mengaku menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

-Jakarta, 28 Oktober 1928. Isi teks Sumpah Pemuda-
             Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemuda adalah orang muda laki-laki; remaja; teruna. Maka dalam esai ini, pemuda yang akan dibahas sama artinya dengan remaja dan generasi muda. Dapat dianalogikan bahwa pemuda merupakan arsitek pembangunan suatu bangsa. Begitu pula dengan pemuda Indonesia, mereka adalah orang-orang yang berpotensi untuk menentukan ke mana arah pembangunan bangsa ini. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015, jumlah pemuda mencapai 62,4 juta orang atau sekitar 25% dari proporsi jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan. Dengan jumlah yang tak sedikit, sebenarnya Indonesia tidak perlu khawatir kekurangan tenaga dalam melaksanakan pembangunannya karena Indonesia telah memiliki potensi. Namun, layaknya pisau yang memang sudah terkenal dengan ketajamannya, tetap saja pisau tentu harus diasah terlebih dahulu untuk mendapat ketajamannya. Begitu pula dengan pemuda Indonesia—mereka sudah terkenal sejak masa lampau sebagai pemuda yang tangguh, gigih, berani, dan pantang menyerah.
            Sejatinya pemuda Indonesia mampu membangun bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan layak dikagumi setiap pasang mata dunia. Presiden pertama Indonesia, Ir, Soekarno pun menaruh kepercayaannya kepada pemuda Indonesia. Ia pernah berkata, “Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya, berikan aku 1 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Begitu dahsyat peranan generasi muda bahkan Ir. Soekarno samapi berani berkata demikian. Hal ini yang harus disadari oleh setiap jiwa pemuda Indonesia agar setiap dari mereka sadar bahwa mereka sedang menggenggam sebuah tanggung jawab besar. Tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan Indonesia yang dengan jerih payah telah diperjuangkan oleh pemuda prakemerdekaan Indonesia. Pemuda pascakemerdekaan (baca: pemuda kekinian) hanya perlu melanjutkan perjuangan pemuda prakemerdekaan. Wadahnya telah dibentuk dengan tetesan keringat pemuda prakemerdekaan yang tak terhitung jumlahnya. Pemuda kekinian hanya perlu mengisi wadah tersebut agar keterbentukannya tidak menjadi sia-sia dan tentunya dapat berguna bagi kelangsungan hidup orang banyak.
Jika kembali mengilas balik sejarah Indonesia dalam meraih kemerdekaan, tercatat sebuah peristiwa penting yang menjadi titik awal perjuangan Indonesia sebagai satu kesatuan negara Indonesia. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan peristiwa Sumpah Pemuda. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan hasil keputusan Kongres Pemuda Kedua yang diselenggarakan pada 27–28 Oktober 1928 di Jakarta. Peristiwa ini telah menorehkan kisah baru dalam lembaran sejarah kemerdekaan Indonesia. Sebelumnya, para pemuda masih melakukan perjuangan yang bersifat kedaerahan untuk meraih sebuah kemerdekaan. Namun dengan adanya peristiwa Sumpah Pemuda telah menjadi titik balik perjuangan pemuda Indonesia. Di momen ini, mereka menyadari bahwa pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” itu memang benar. Perjuangan yang bersifat kedaerahan tentu bukan pilihan terbaik bagi Indonesia. Indonesia terdiri dari hamparan 17.504 pulau (Pusat Data, Statistik, dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014) yang menyebar dari Sabang hingga Merauke. Oleh sebab itu, Indonesia tidak dapat dikatakan “Indonesia” apabila hanya dilihat dari sebuah sedotan kecil, Indonesia harus dilihat dari teropong besar sehingga seluruh bagian Indonesia dapat terlihat karena Indonesia merupakan satu kesatuan utuh yang dibungkus oleh semangat cinta tanah air para penghuninya.
Telah menjadi suatu hal yang tak asing di telinga masyarakat Indonesia, bahkan dunia bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya dengan keragamannya. Lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila yang menggenggam erat sebuah pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika (dalam bahasa Indonesia: berbeda-beda tetapi tetap satu) telah  menggambarkan kondisi keragaman yang ada di Indonesia. Adanya keragaman tersebut patut disyukuri keberadaannya karena tidak semua negara memiliki anugerah keragaman seperti yang dimiliki Indonesia. Apabila keragaman tersebut dapat dikembangkan dengan baik tentu akan menimbulkan dampak positif bagi kemajuan Indonesia. Keragaman tersebut bagaikan sebuah pisau yang harus terus diasah agar menjadi sebuah pisau tajam yang dapat bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari. Namun perlu diingat, jangan sampai pisau yang telah menjadi tajam tersebut justru menjadi bumerang karena keberadaannya justru dapat melukai diri sendiri.
Keragaman yang merupakan sebuah potensi dapat menjadi sebuah ancaman apabila Indonesia tidak berhasil mengelola keragaman tersebut. Salah satu keragaman Indonesia yang telah populer di mata dunia adalah keragaman budaya. Munculnya keragaman budaya tersebut adalah buah dari Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Hingga saat ini, Indonesia memiliki 34 provinsi. Berbeda provinsi, berbeda pula produk khas daerahnya. Suku, tarian daerah, lagu daerah, makanan daerah, bahasa daerah, senjata daerah, serta baju daerah merupakan sepercik produk khas daerah yang beragam bentuk maupun jenisnya. Semua keragaman tersebut merupakan warisan turun temurun yang menjadi aset penting Indonesia. Oleh sebab itu, keberadannya harus dijaga dan dilestarikan agar tidak hilang karena hanyut terbawa derasnya arus globalisasi.
Globalisasi adalah proses mendunia tanpa batas karena globalisasi seolah menghapus batas-batas antarnegara. Dewasa ini arus globalisasi semakin deras menerpa setiap aspek kehidupan di dunia ini. Tidak dipungkiri, globalisasi memang memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari. Terutama pada bidang pengembangan teknologi. Globalisasi telah memberi jasa besar dalam mempermudah pekerjaan manusia. Zaman sekarang semua serba cepat dan praktis karena keberadaan globalisasi. Namun dibalik kemegahan dari proses globalisasi tersebut, terdapat berbagai hal yang keberadaanya terabrasi oleh derasnya arus globalisasi. Informasi-informasi yang bersifat destruktif, diantaranya narkoba, pergaulan bebas, pornografi, hingga terorisme dapat masuk dengan mudahnya ke bangsa ini. Sungguh disayangkan, pemudalah yang menjadi sasaran utama dari derasnya arus negatif globalisasi.
Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, dampak dari proses globalisasi yaitu lahirnya generasi baru yang memiliki pola pikir serba cepat, serba instan, lintas batas, cenderung individualistik dan pragmatik. Perlu diperhatikan budaya-budaya baru yang dibawa bersama arus globalisasi. Pemuda Indonesia harus menerapkan filterisasi kebudayaan agar tidak terjerumus dalam jurang penurunan karakter akibat salah konsumsi budaya. Budaya yang layak dikonsumsi bangsa Indonesia adalah budaya yang sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Tentu Indonesia ingin mencetak generasi-generasi muda yang berkualitas karena seperti yang telah diuraikan sebelumnya bahwa pemuda merupakan arsitek suatu bangsa. Oleh sebab itu, dibalik kemegahan sebuah gedung terdapat peran arsitek hebat dibelakangnya.
Terhitung hingga tahun ini, usia peristiwa Sumpah Pemuda telah menginjak usia 87 tahun. Ini berarti sudah 87 kali pemuda Indonesia memeringati peristiwa Sumpah Pemuda. Namun, tak banyak yang memahami arti penting diperingatinya peristiwa bersejarah itu. Banyak pemuda yang hanya mengartikan peringatan hari Sumpah Pemuda hanya sekadar melakukan upacara bendera setiap tanggal 28 Oktober. Pemuda hanya melihat dari permukaannya tanpa menggali nilai-nilai yang terkandung dari diperingatinya peristiwa Sumpah Pemuda. Padahal keberadaan peristiwa Sumpah Pemuda tidak kalah penting dari peristiwa proklamasi sebab bukan tak mungkin jika tidak ada peristiwa Sumpah Pemuda, maka peristiwa proklamasi tidaklah terjadi. Peristiwa Sumpah Pemuda merupakan titik awal tumbuhnya rasa persatuan, kesatuan, dan cinta tanah air sebagai satu kesatuan, Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Terdapat suatu nilai penting dari diperingatinya peristiwa Sumpah Pemuda, yaitu mengenai pentingnya rasa cinta tanah air bagi bangsa Indonesia yang merupakan bangsa yang majemuk. Sejatinya, sulit untuk menyatukan berbagai keragaman. Tetapi pada kenyataannya, Indonesia mampu menyatukan berbagai keragaman dengan suatu rasa yang bernama “cinta tanah air”. Menurut KBBI, cinta adalah suka sekali, sayang benar. Sedangkan tanah air adalah negeri tempat kelahiran. Jadi, dapat disimpulkan bahwa cinta tanah air adalah perasaan suka dan sayang kepada negeri tempat kelahiran. Negeri tempat kelahiran yang dimaksud adalah tanah air Indonesia. Tanpa adanya cinta tanah air, rasanya sulit untuk menyatukan keberagaman Indonesia. Oleh sebab itu, cinta tanah air memegang peranan penting bagi pembentukan karakter penghuninya. Kalau boleh membandingkan, tingkat cinta tanah air pemuda prakemerdekaan dengan pemuda kekinian tampak jelas berbeda. Tingkat cinta yang dimiliki pemuda prakemerdekaan lebih besar dibandingkan dengan pemuda kekinian. Hal ini dapat terlihat jelas dari karakter mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi, kesopanan, dan gotong royong. Namun tidak dengan pemuda kekinian. Pudarnya nilai toleransi, banyak mereka yang terlibat tawuran antarpelajar. Pudarnya nilai kesopanan, banyak mereka yang menghujat orang tuanya sendiri. Pudarnya nilai gotong royong, mereka mulai bersikap apatis, sibuk dengan gadget masing-masing.
Karakter pemuda Indonesia butuh pertumbuhan agar ia terus tumbuh dan tak menjadi layu. Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik. Meminjam istilah dari Bapak Joko Widodo mengenai Revolusi Mental masyarakat Indonesia, Indonesia juga membutuhkan  Revolusi Karakter. Dengan pupuk cinta tanah air, maka karakter pemuda Indonesia akan kembali tumbuh subur. Pemuda harus merasa memiliki rasa cinta untuk negeri ini, negeri kelahiranya. Analogi sederhananya seperti ini, jika kita mencintai sesuatu, pasti kita akan rela mengorbankan apapun demi kebaikan yang kita cinta. Begitu besar dampak cinta tanah air bagi suatu negara. Dibutuhkan peranan pemerintah untuk membuat pupuk cinta tanah air. Sekolah menjadi tempat utama untuk memupuk siswanya dengan cinta tanah air melalui pelajaran yang diberikan guru. Sehingga Indonesia dapat mencetak pemuda berkarakter baik.


Dengan pemandangan miris yang dapat dilihat dalam kehidupan sehari-hari pemuda Indonesia terhadap degradasi rasa cinta tanah air, menunjukan bahwa Indonesia harus semakin siaga terhadap pemandangan ini. Tergerusnya rasa cinta tanah air pada jiwa pemuda Indonesia akan berisiko menimbulkan disintegrasi  bangsa Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda seharusnya dapat dijadikan sebuah momen untuk kembali menyuarakan pentingnya rasa cinta tanah air kepada pemuda Indonesia. Seperti isi dari teks Sumpah Pemuda, yaitu satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Mari kita pemuda Indonesia saling bahu membahu untuk saling memupuki karakter jiwa muda dengan pupuk cinta tanah air sebagai bentuk realisasi dari nilai yang terkandung dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Sebab sebuah tumbuhan dapat tumbuh lebih subur dengan diberikan pupuk. Begitu pula dengan pemuda Indonesia, pupuk cinta tanah air diharapkan dapat menumbuhkan karakter pemuda Indonesia sebagai arsitek bangsa Indonesia yang berkualitas.  Bersama kita wujudkan pemuda Indonesia yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa dengan kadar yang tak terpengaruh oleh perkembangan zaman. Sekali Indonesia, tetap Indonesia! Salam Pemuda!

You May Also Like

0 komentar